SABAR AYAH

sepinya malam ini menemani tanpa lelah
dingin angin  menyentu lembut raut wajah
suara jangkrik tak dapat meredakan kesedihan yang enggan di nampakkan
rembulan yang slalu tersenyum tak dapat menghiburku


ayah,
aku teringat ketika engkau duduk termenung di berandah rumah
tatapan kosong terpancar dari matamu yang tajam
berusaha menerawang setiap permasalahan yang silih berganti menerpa
belengguh yang hadir enggan pergi dari pikiranmu

ayah,
kini aku jauh darimu
disini aku terpaku mengingat jerih payah mu
terkatung-katung menanti imbalan setiap tetesan keringatmu
terkadang engkau harus meminjam kesana-kemari
karena tuntutan yang tak dapat ditunda dari seberang pulau

Tidak ada komentar:

Posting Komentar