DARI DO'A KE BEASISWA

@kampus 2010
*****
“fan, kamu dipanggil pak harto”. Panggil rudi
“wah, ada apa ya rud saya dipanggil pak harto?” tanya ku kaget
“ gak tau gue fan”. Jawab rudi, singkat
Aku langsung bergegas berdiri dari tempat duduk ku dan berlari kecil menaiki tangga menuju ruang jurusan tempat pak harto berada. Sesampainya diruang jurusan, ku hela nafas panjang sambil mengusahakan diri untuk bertenang. Jarang-jarang ada mahasiswa sepertiku dipanggil oleh ketua jurusan, kalau ada pun, biasanya mahasiswa yang mendapatkan benang merah tanda DO[1]. Karena jarang kuliah atau SPP menunggak 13 bulan, tapi aku sering masuk kuliah, setiap ada tugas aku kerjakan dengan baik, dan SPP ku alhamdulillah tidak menunggak. “huf, kenapa gerangan aku dipanggil pak harto?” kenang ku dalan hati._Ketua jurusan yang berwajah kalem, berkumis lebat, berbadan tegap. Bissmillahirohmanirrohim aku memberanikan diri mengetuk pintu, ruangan pak harto.

SEONGGOK REMBULAN YANG BISU

Dimalam yang dingin
kunang-kunang memadu kasih dengan bintang yang gemerlap
langit biru menjadi saksi ukiran kasih sayang
kelelawar ikut ceria menyaksikan indah dimalam itu

Aku menembus angin menuju suatu tempat bahagia
demi bertemu dengan pesona menawanmu

BUNDA

Sembilan bulan lamanya
Rahim dalam berada
Janin muda perut bunda
Pengorbanan tiada sia
Akhirnya aku lahir lahir juga

Dunia baru berseru
Pada diriku
Waktu dulu
Pada pangkuanmu

SABAR AYAH

sepinya malam ini menemani tanpa lelah
dingin angin  menyentu lembut raut wajah
suara jangkrik tak dapat meredakan kesedihan yang enggan di nampakkan
rembulan yang slalu tersenyum tak dapat menghiburku

SUMILIR CINTA

aku terlelap dalam rasa yang membuncah
jiwa membeku karna setitik cinta
tak pernah terhembus angin cinta lainnya

cintamu bagai kupu-kupu nan indah
yang hinggap tanpa niat untuk berpindah
menghiasi setangkai hati nan kumuh ini
berpadu menjadi pesonoa elok

setitik air mata harapan
tak dapat terhapus di kain penantian

SOBAT

Sentummu hanyut ditelan waktu
Candamu lenyap tak berdebu
Angan mu hancur berkeping-keping
Semua hilang kian meradang

Ku tatap wajah tanpa kata
Hanya raga terlentang meronta
Tensimu melambung meninggi
Detak nadi seakan berhenti

WAJAH TEDUH ITU

Siapa pemilik wajah teduh itu ?

Tatapan matanya membuat jiwa ini sahdu. Dingin
Pesona tertutup rapi. Tak sanggup mata ini meraba keindahannya
Walau mata tak sanggup menatap
Namun hati slalu terbayang aura rokhaniahnya
Sunggung lembut senyum itu, selembut kapas 
Terbang melayang membawa ketenangan setiap mengingat senyum itu