lima puluh empat tahun bapak menyadap getah
selama itu tetesan darah putih telah bersahabat
aroma semerbak berubah menjadi wewangian sehari-hari
bermacam-macam musin terlewati
dari musim gugur sampai musin kering kerontang
hingga darah putih enggan jatuh ke tempurung kelapa
bapak tetap tegar walau hujan terkadang menyejukkan
demi kebutuhan yang tak sesuai dengan ke inginan
merayap ke rumah tetangga menjadi solusi
"beras di rumah habis nak" kata bapak
daku anak lelaki pertama dan satu-satunya
berdiri menjadi penopang masa depan antar terang atau gelap
disekolah tak pernah mengajarkanku mencari uang
namun sekolah terus mengoyak-ngoyak kantong nan kurus
"biar makan berhenti asal sekolah terus berjalan nak" nasehat bapak
hati berkelahi dengan keadaan
kulit keriput badan lusuh itu tak pernah lari dari bayangan
sampai daku menyebrang pulau nan jauh
bukan menghilang, tapi bertambah terngiang kata-kata dari bibir tulus itu
kini waktu untuk melangkah kembali
menjejakkan kaki di tanah kelahiran
tepat saat pahat bapak telah patah
tangan bapak pun sudah tidak dapat di cium seperti dulu
kesejukan hati
embun suci
serta gundah gulana menghujam
bibir terkunci
hati berusaha ikhlas namun memaki diri sendiri.
@UB
16.57
12.01.2015
KISAH SEORANG SAUDARA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar