melalui kehidupan yang beku
hanya seperti ini. tanpa perubahan
kesusahan hanya membuat semakin menjadi-jadi
di setiap sudut waktu menangis. merintih
beradu dengan nasib yang selalu kehujanan
melawan hari yang selalu panas
hawa semakin hari semakin menyengat walau salju menghujam
peristiwa terpampang meningkatkan halusisnasi
di sudut waktu negri ini
mereka tersudut dengan kesusahan sekilas menentramkan
kesejahteraan yang dulu terucap hanya kata-kata basi
realisasi yang di inginkan mengoyak-ngoyak kantong
kebahagiaan hanya sepatah kata dalam selubung kemiskinan
mereka di negri ini
mata hanya menyorot di tengah kota penuh batu menjulang bisu
dengan kaca mata bolong sebelah. sadar namun menipu
kebohongan menjadi sarapan pagi
kemunafikan menjadi makan malam bersama selingkuhan
jeritan tak terdengar
mengusik hati yang mendengar namun bisu
ada yang meneteskan embun putih namun tuli
banyak geranat bertubi-tubi menghujan
mengusik kesepian jiwa saat terlelap
benak mati
meradang menatap kekacauan terorganisir
senyuman-senyuman kebohongan merayap pelan
berusaha menenangkan dengan seonggok kata-kata
sejenak tenang, namun tidur tak pernah lelap
karna perut tidak membohongi diri.
M. Irfan Rosyadi
04 februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar