AKU GILA "kau gila dan semua gila"

Ditepian senja,
Aku menatap matahari yang kini usang.
Tertutup debu yang bertebaran disudut kota,
Wajah lusuh itu slalu tersenyum disebalik duka yang mendalam, aku tau itu.
Dibenaknya tersimpan beribu kegelisahan yang tak terdeteksi
Sanubarinya dibanjiri kesedihan, mata tak bisa berlinang air mata.
Kini, Keluh tak terdefinisi oleh cinta kebijaksanaan.
Apa yang aku rasakan tak sanggup tergores di lembar putih.
Duka lara menghujam kesanubari tak bertiyang.
Rekaman memori kegelisahan itu, tak pernah bisa kau rasakan.
Goresan silet karat bersimbah garam tak terasa lebih menyakitkan.

Ku ingin  bertanya pada ibu pertiwi
“Bu, kenapa mutiara kusam berkeliaran dijalanan ?”
Lisan ibu telah bertulang, diam membisu
Aku bingung,” AKU GILA”

AKU GILA,
Benakku tergelitik dengan tatapan mata yang menatap mata
Mata ku buta namun menatap fenomena
Aku mau menangis, aku juga ingin tertawa, hahahaha
Hay, air mata ku tak ada guna dimata mereka dan dia
Kata kau air mataku, air mata manusia tak beretika, namun dia tau kau  juga tak beretika.
Tapi apa itu ETIKA ? entahlah

Wahai kau, “bajingan”. Apa kau tak merasa ?
Singgasana itu sangat indah, berhias kulit tikus yang bebulu jingga
ruangan berbentuk kubus, dingin terasa hembusan angin neraka
senyum merekah slalu terpancar, dari wajah-wajah kuli malaikat malik. Sungguh merona.
Hari demi hari penampilan semakin menarik hati
Jaz  terbuat dari kain sutra dari amerika, menutupi nanah kronis kadaluarsa
Sungguh harum baunya, membuat bulu hidungku keriting, terpelintir.

Hay “ manusia terlaknat”
Butakah mata kau, dia disini kelaparan
Menanti durian emas jatuh dari awan hitam
Memunguti butiran-butiran keringat yang tak terjumpai
Dia telusuri dan terus menelusuri, sampai truk besar menangkap badan lusuhnya
Uuuwwwesss,,,,partikel abstrak lepas dari badan lusuh itu
Aku langsung berlari mengejar, ah kemanakah dia pergi ?
Tak mungkin, sia-sia
Semua ini salah kau,
Sepasang mata tak berguna, selonggok hati yang mati di hari-hari keseharian
Mampus kah isi otak yang terisi otak, hingga kerongkongan  mengalir hak semua
Apa Benak kau tak tercuci oleh deterjen. ha…?

Semua gila,
Wahai kau, kenapa harus semua gila ?
Aku gila, kau gila, mereka juga ikut gila karna kau dan aku gila
Halah, kau hanya bisa diam, dan diam-diam kau bisa
Kata kau “ aku lupa, aku lupa, aku lupa!”
Kamu lupa ? hancur lah mereka !
Air mata, tidak biasa menjadi air mata mereka
Keringat, sudah habis diperas mentari senja, menyengat.
Kata tak sanggup terangkai, hanya naluri kadang hidup dan mati.

Embun suci dari hati yang gila, slalu setia kulimpahkan
Maaf kan aku yang slalu menyusahkan
Mengirimkan cercahan kata-kata dari lidah yang tak bertulang
Menghujam ke naluri nasionalis, padahal aku tak bisa
Namun aku mengerti, kegelisahanku tak terobati
Hanya dengan apotik cinta, kapan kau berikan kepada ku ?

Yogyakarta, 09 oktober 2011
M. Irfan Rosyadi
(keberanian ku terkalahkan oleh keberanian yang sangat berani)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar