Kobaran api yang menantang
pasti datang dari sesuatu hal yang menantang pula, tantangan dan terjangan
harus dihadapi menggunakan semangat yang berkobar. bagaikan si jago merah yang
melalap gedung nan tinggi.
walaupun pahit menghadang, namun harus diterjang dan dilawan. aku tidak akan
peduli dengan apa tantangan dan terjangan yang timbul. emang terkadang aku
merasa sedih bila harus melewati tantangan yang begitu berat, namun aku
tak bisa mengelak tantangan yang di anugrah kan oleh sang maha kuasa, pemilik
jagat raya ini. Dengan ambisi dan daya juang yang bergelora, aku pasti bisa
melewati semua ini.
Sore itu saat pulang sekolah, sesampai nya di rumah kulihat orang tua paruh
baya sedang membereskan peralatan untuk menangkap ikan pada pagi besok,
sementara ku lihat alam tidak bershabat, awan-awan komulus nimbus bergumpal-gumpal memenuhi alam raya,
hingga menjadi gelap. Angin bertiup kencang membawa rintik-rintik kecil yang
membasahi bumi.
Selesai mengganti pakaian sekolah, aku bergegas pergi membantunya. untuk
membereskan peralatan yang sedang dia kerjakan kedalambangsal. Agar tidak tersentuh partikel-partikel
yang berjatuhan dari langit.
Tidak seperti biasanya, cuaca pada hari ini sangat buruk, angin timur
bertiup kencang menghantam pulau diujung selata melaka, akibatnya sudah dua
hari para masyarakat disekitar pulau itu tidak melaut, begitu juga dengan ayah
ku. Yang setiap harinya bekerja sebagai nelayan bersama-sama masyarakat
setempat. itulah mata pencaharian ayahku sehari-hari.
semantara ibuku hanya terlentang menatap langit-langit dan terdiam membisu
tanpa gerak sedikitpun, ibuku terserang setruk ketika aku masih berusia 12
tahun. Aku memiliki seorang kakak dan adik, kakakku sudah tidak melanjutkan
sekolah lagi, dikarnaka oleh faktor ekonomi yang tidak mengizinkan dia untuk
melanjutkan sekolah lagi, sementara aku masih kelas 3 SMP yang tidak tau kemana
arah tujuan yang harus aku pilih. Adikku masih berada dikelas 4 SD.
Seperti biasa, setiap hari minggu aku mambantu ayah untuk menangkap ikan
dilaut. Pagi-pagi kami harus pergi melaut dan pulang pada malam harinya,
biasanya hasil ikan tangkapan kami sebagian akan di jual dipasar dan
sebagiannya lagi untuk makan dirumah. Namun pada hari ini hasil tangkapan kami
tidak seperti biasanya, dikarenakan cuaca pada bulan ini tidak menentu. Dan
akhirnya kami pulang dengan tangan hampa tanpa hasil tangkapan.
Sesampainya di rumah adikku sudah menunggu di depan pintu.
“bang, banyak tak dapat ikan hari ne?” Tanpa jawab apa-apa hanya segelintir
senyum yang aku lemparkan pada adikku, aku tau pasti anak sekecil itu sangat
membutuhkan perhatian dari kakaknya, dan belum tahu bagaimana keadaaan kakaknya
disaat itu. Tidak seperti ayahku, orang tua yang sangat menyayangi anaknya,
sebenarnya dia ingin sekali melihat anaknya hidup bahagia, namun semua itu
hanya hayalan belaka dari mimpi-mimpi yang tak terwujud tanpa usaha yang keras.
Pernah suatu hari, aku duduk bersama ayah di ujung pelabuhan menunggu datangnya
sampan yang di pinjam oleh sahabat karib ayahku untuk memancing ikan. Kami
bercerita tantang masa depan keluarga kami.
“wan, dikau ape masih mau melanjutkan sekolah kalau sudah tamat SMP?”
Aku terdiam sejenak mendengar
perkataan dari ayahku, aku tak tau apa yang harus aku jawab.
“itu tergantung pada ayah saje, kalau emang kita ada biaya untuk melanjutkan
SMA, ridwan mau yah, tapi kalau tak ada tak usah lagi”
“bukan begitu wan, uang itu mudah di cari, apa lagi kau lah tulang punggung
keluarga, ayah ni dah tue kalau besok ayah sudah tak ada kau lah yang mencari
nafkah buat adik dan kakak kau, sementara ibu kau tak dapat apa-apa lagi”.
Kulihat wajah ayah yang kelam, kening berkerut-kerut, membuat hati ku merintih
ketika mendengar harapan dari seorang ayah yang memiliki semangat
berkobar-kobar yang tertanam dalam jiwa nya, untuk menyekolahkanku walaupun
hanya sebagai seorang nelayan, yang tak pasti berapa penghasilannya dalam
sehari .
Setelah lama kami duduk di pelabuhan, akhirnya datang juga orang yang kami
tunggu-tunggu,
*****
Pagi itu tepat tanggal 20 april bertepatan hari senin, tidak lama lagi aku akan
menghadpi ujian nasional, sudah hampir 3 tahun aku arungi masa remaja, namun
tidak pernah aku merasakan hal yang kata orang masa remaja adalah masa yang
sangat indah dan dipenuhi kebahagiaan. tapi sebaliknya, justru dimasa remaja
lah aku merasakan kesulitan yang sangat mendera jiwa dan ragaku.
Pagi itu aku bersiap-siap pergi kesekolah, sedangkan ayah sedang menyiapkan jaring untuk pergi menangkap ikan.
Setelah selesai sarapan yang telah dipersiapkan oleh kakak yang sangat aku
sayangi. Aku berpamitan dengan ayah dan ibu, aku tidak tahu kenapa hari
ini perasaan ku ada yang mengganjal, apa lagi ketika aku berpamitan dengan
ayah, beliau berpesan kapada ku.
“belajar yang baik ya nak, semoga allah senantiasa bersama mu dan jangan lupa
jaga adik dan kakak mu”.
Aku hanya menunduk, seraya mencium tangan ayah. Aku tak pernah merasakan hari
yang begitu berat untukku melangkahkan kaki dari rumah menuju ke sekolah untuk
menggapai bintang yang cerah. Yang menyinari keluargaku. dengan perasaan berat
hati aku pergi menuju ke sekolah bersama teman-teman sebayaku.
Disaat menuju ke sekolah aku hanya diam, diam, dan diam sementara teman-teman
bercerita tentang aktifitas yang mereka lakukan pada hari minggu, biasanya aku
dan teman-teman bermain bola bersama-sama, namun pada hari minggu ini aku tidak
bisa bermain bersama mereka. aku harus membantu ayah menangkap ikan di laut,
sebenarya ayah tidak pernah mengizinkan aku ikut menangkap ikan, tapi aku tetap
ngotot untuk ikut melaut bersamanya, aku ingin berbakti kepada orang tua. Aku
sangat perihatin melihat orang tuaku yang sudah separuh baya.
setiap bekerja bersamanya ku lihat matanya
memendam rasa yang sangat lelah, letih yang sangat mendalam. namun itulah
tanggung jawab sebagai kepala keluarga harus memberi nafkah keluarganya.
Tak terasa setengah jam aku dan teman-teman berjalan kaki dari rumah menuju
kesekolah dan akhirnya kami sampai juga dan langsung menuju kekelas, saat
menuju ke kelas teman-teman yang kulewati terlihat aneh melihatku. akupun tak
tahu kenapa mereka sinis melihat ku. Mungkin di karnakan, aku
tidak seperti biasa yang mereka lihat. memang hari ini aku tidak tahu
mengapa aku seperti ini, aku hanya diam, pikiran ku melayang-layang dengan
kata-kata yang ayah lontarkan di saat aku berpamitan denganya. selama aku hidup
belum pernah mendengarkan kata-kata yang sangat menusuk kalbuku seperti saat
ini.
Sesampinya di kelas aku langsung menuju mejaku, disudut pas di bawah peta
kabupaten, aku duduk disebelah teman ku. yang orang tua nya bekerja sebagi
nelayan bersama-sama dengan orang tuaku, setiap hari minggu biasanya kami
berdua membantu orang tua melaut, namun pada hari minggu kemaren dia tidak ikut
melaut bersama orang tua nya. Dia di ajak paman nya kekota, untuk melihat
sekolah yang akan dia tuju setelah lulus dari SMP nanti, aku sangat bangga
kepada nya, walaupun orang tua nya bekerja sebagai nelayan, namun tidak
menggoyah kan cita-citanya yang ingin menjadi pilot.
“din , kemaren kau kekota ya?”.
“ia, dari mana kau tau ?”
“aku tau dari bapak kau, kemaren aku sama-sama dengan bapak kau melaut trus aku
Tanya dengan bapak kau”.
o…ya din, katanya kau mau sekolah dikota
ya?
“itu baru rencana wan, belum pasti lagi” jawab nya
“rencana nya kau mau masuk sekolah apa?”
“kemaren aku mau di masukkan SMK,
biar tamat SMK, aku langsung dapat berkerja.
Kalau kau wan mau melanjutkan sekolah dimana?”
“aku belum tau lagi din, kalau bisa sich nyambung lah, ilmu itu kan penting
din, itu pun kalau ada duet”.
Belum lama kami ngobrol, tiba-tiba lonceng masuk pun berdentang, semua siswa
menuju kekelasnya masing-masing. hari senin ini sekolah kami tidak melaksanakan
upacara bendera, karna lapangan di genangi oleh air, sudah satu minggu hujan
membasahi bumi ditimur selat Melaka.
*****
Disaat suasana belajar, sungguh tidak tenang batinku. Bagai kan genderang mau
perang yang di hantam ribuan masalah dan rintangan. Ketika mata ku tertuju
keluar tanpa memperhatikan penjelasan buk guru di depan kelas. Kulihat mata
hari bersinar tidak lagi leluasa. terhadang awan gelap gulita. Tidak lama
kemudian guruh kembali bersahut-sahut mengepung langit, tiupan angin membawa
rintikan gerimis yang berganti hujan yang tercurah dari ember raksasa, sehingga
membasahi alam yang indah ini. Kutatap langit kelabu dengan rasa was-was yang
mendalam. Pikiran kuterbang melayang memikirkan ayah ku yang sedang melaut,
beliau pasti sangat kedinginan, menentang ombak yang sangat ganas, sambaran
petir menjilat-jilat bagaikan si jago merah yang ingin melahap gedung raksasa.
Kulihat dari kejauhan ada seseorang berlari tergopoh-gopoh melewati derasnya
hujan untuk menuju kekelas ku. mataku samar-samar melihat orang itu,
namun aku kenal dengan bentuk tubuhnya yang di selimuti kabut asap, rambut nya
menjulur panjang. Lama ku tatap orang itu dari kejauhan. Akhirnya aku tahu juga
disaat dia berteriak-teriak memanggil namaku, kami satu kelas pun heboh disaat
mendengarkan suara itu.
“kalau tidak salah itu adalah suara
kakak” batinku suara itu makin lama, makin jelas mendekati kelas ku.
“wan,…….wan,…..wan,……pulang wan”
panggil nya
Suara itu merangsang kepikiranku yang dari tadi melayang tidak tentu arah, aku
pun langsung berlari keluar kelas. Kulihat kakak menangis tersedu-sedu, aku
tidak tahu entah apa yang terjadi. Kakak langsung memelukku dan berbicara
dengan terbata-bata.
“wan…..wan….a….a..ayah wan” ucapnya
“Ada apa kak dengan ayah” aku panik
“ayah wan” kakak ku mengulangi perkataan nya
“ayah kenapa kak?”Tanyaku,dengan nada meninggi
“ayah tenggelam wan”
Tanpa banyak kata-kata aku langsung berlari menuju kerumah, melintasi terjangan
air hujan yang menghadang, yang diiringi deraian air mata yang mengalir
membasahi pipi. Hati ku sangat terpukul setelah mendengar kabar yang tak pernah
terlintas dalam benakku.
Sesampai dirumah, kulihat orang telah banyak berkumpul. Air mata ku makin deras
membasahi bumi, tak sanggup aku tahan. Aku langsung masuk kedalam rumah tanpa
mengganti pakaian terlebih dahulu. kulihat adik kecil ku menungisi sebelah
jasad yang telah terbujur kaku terselimuti kain putih yang menutupi seluruh
tubuh nya, sedangkan ibuku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya mengalirkan air
mata tiada henti.
Hujan pun mulai reda, tapi tak bisa meredakan tangisku, adik, kakak dan ibu.
Ayah yang selama ini sangat kami sayangi telah pergi meninggalkan kami
semua.
Setelah selesai di solat kan, jasad ayah langsung di bawa kepemakaman,
saat kupikul jenazah ayah untuk berangkat menuju istana terakhirnya. Air mata
ku berderai-derai serentak dengan langkah kaki ku. Awan menyelimuti pemakaman
ayah ku
tercinta.
Selesai sudah pemakaman ayah, sangat berat rasanya ketika aku harus
meninggal kan seonggok tanah yang menjadi rumah terakhir untuk ayah. Hanya
teriring doa yang ku kirim kan buat ayah, semoga ayah diterima disisi nya, aku
yakin suatu saat kelak kami pasti bisa bertemu kembali di surganya.
Darel hikmah,20 des 2009
M.irfan rosyadi
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar