TENTANG PENULIS

Nama saya M. Irfan rosyadi, teman-teman sering memanggil saya dengan sebutan Irfan atau sadi. Saya di lahirkan di sebuah pulau kecil bernama Pulau Merbau desa semukut yang berada di Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau, Indonesia. Saya di lahirkan pada tanggal 11 januari 1993.
Jenjang pendidikan yang saya tempuh yaitu pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Hidayatul mubtadiin dan melanjutkan di MTs Hidayatul mubtadiin sementara Jenjang SLTA saya memutuskan  untuk menuntut ilmu disalah satu pondok pesantren yang berada di ibu kota provinsi yakni pondok pesantren Dar el Hikmah Pekanbaru. Setamatnya dari pesantren saya melanjutkan jenjang studi strata satu di kota gudeg (Daerah Istimewa Yogyakarta) di Universitas Islam Indonesia jurusan ilmu ekonomi. Dan Alhamdulillah saat ini saya sedang menempuh jenjang pascasarjana di universitas “raja” brawijaya Kota Malang dengan jurusan yang sama.
Sekilas bercerita
Setamat Madrasah Ibtidaiyah, ayah menginginkan saya agar melanjutkan ke pondok pesantren salafi di ibu kota provinsi. Saya mengaminkan keinginan ayah dan bertekat untuk belajar agama dengan baik, karena motivasi dari empat saudara kandung ayah semua lulusan pesantren di pulau jawa kecuali ayah dan kakaknya. Tekat sudah bulat di dalam hati, tinggal beberapa hari keberangkatan saya ke ibu kota provinsi terhalang permasalahan besar. Dan malam sebelum saya berangkat adalah puncak permasalahan, saya hanya bisa menangis menyaksikan permasalahan tersebut. Dan pada malam itu juga saya bertekat tidak akan meningggalkan rumah apabila masalah belum usai. Saat pagi ayah mengajak saya untuk berangkat, namun saya tidak menanggapi permintaan ayah lalu saya pergi meninggalkan rumah menuju ke rumah pak "dhe" (abangnya ayah). Dan ayah memutuskan pergi dari rumah tanpa memperdulikanku, ibu, adek dan tidak tahu entah kemana. Hampir dua minggu ayah tidak menampakkan batang hidungnya.
Cerita lainnya
Dahulu saat saya ingin melanjutkan jenjang strata satu, saya berkeiginan untuk konsentrasi pada jurusan sastra Indonesia. karena saat di pesantren, beberapa karangan saya telah terbit di media cetak daerah. Namun setelah berargumen panjang dengan ayah, keinginan saya kandas dengan berbagai argumen ayah yang seakan memojokkan. Saya tertunduk lemas karena saya yakin saat itu impian saya tidak dapat tercapai, dan saya ikut dengan keinginan ayah untuk melanjutkan studi di universitas yang telah direncanakan oleh ayah sejak awal.
Saat itu saya teringat dengan kejadian enam tahun yang lalu. Saya tidak patuh pada keinginan ayah. Di dalam hati berat untuk tetap menjalankan keinginan ayah, namun saya tidak ingin mengecewakan seorang ayah pejuang untuk hidup dan kebahagiaan anak-anaknya.
Saya bersyukur keputusan ayah yang saya pilih tidak menjerumuskan saya kepada kebosenan dalam menuntut ilmu. Keinginan saya untuk menulis tetap tercapai, dan ilmu di bidang ekonomi sangat menunjang.

TERUS BERKARYA. WALAU HIDUP DIMAKAN USIA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar