Di
negriku yang konon subur
Kini
hidup terasa berbeda
Bertebara
komuflase tanpa makna
Ucapan
hanya bias semu tanpa akar
Di sudut kota penuh caci maki
Persoalan
perut selalau menjadi amarah
Harga
diri menjadi taruhan tanpa nilai
Walau
pelupuk mata tertancap duri
Begitu
juga di gedung berbalut tembok dan kaca
Sandiwara
merayap bagai cicak
Pelan-pelan
bergerak menyelidiki mangsa
Sambil
menanti waktu untuk melahap
Itulah
kisah negri disudut samudra
Hanya
bias menganga
Menatap
umpan kehinaan dari awan
Dilampar
dengan kaki penuh nanah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar