TITISAN KASIH SUCI

Malam ini, Rembulan berselimut awan putih bersinar cemerlang seindah pesona sesosok anak manusia yang dianunggrahkan setitik rasa yang tak tertandingi dengan seluruh partikel yang ada di planet ini. Sungguh malam yang indah, terangkai jalinan suci dalam jiwa yang bersih. Rasa itu mengalir lewat aliran urat saraf merespon dengan baik hingga menusuk ke relung jiwa , tertutur rapi lewat kata yang sempurna. rasa itu adalah CINTA. Anugrah yang sangat sempurna, tidak ada yang bisa menandingi rasa yang telah di berikan oleh Allah SWT ini. Apa itu cinta ?

Dalam lamunanku mendefinisikan cinta tidak menemukan setitik jawaban pun yang sesuai dengan apa yang telah aku rasakan. Namun aku slalu ingat dengan kata-kata yang sedikit menguraikan tentang cinta yang pernah aku dengar.
“CINTA adalah kekuatan yang mampu merubah duri menjadi mawar, cuka menjadi anggur, malang menjadi untung, sedih menjadi ria, setan menjadi nabi, iblis menjadi malaikat, sakit menjadi sehat, bahil menjadi dermawan, kandang menjadi taman, penjara menjadi istana, amarah menjadi ramah, musibah menjadi muhibbah, itu lah cinta !” husna.
“kalau cinta telah kurangkai dan aku jelaskan panjang lebar, namun jika cinta kudatangi, aku menjadi malu kepada keterangan ku sendiri, walaupun lidah mampu mengucapkan, namun tanpa lidah cinta ternyata lebih terang, semetara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya, kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai cinta akal tak berdaya, bagaikan keledai terbaring dalam lumpur, cinta sendirilah yang menerangkan cinta dalam kesunyian”. Anna
Kata-kata itu terus terngiang dalam benak ku saat memahami arti cinta, betapa tak berdayanya aku saat mengungkapkan arti cinta sebenarnya. Lelehan air mata dan desahan jiwa takkan cukup untuk mengungkapkan cinta sebenarnya.
*****
Malam ini terasa sangat menakjubkan, sepasang anak adam menjalin kasih sayang dihadapan seorang hamba yang tidak pernah mengerti cinta sebenarnya, namun hanya bisa merasakan bahagia saat kata-kata teruntai dari lisan yang penuh kehilafan, dari hati yang tulus mengungkapkan rasa cinta sebenarnya.
Binar mata indah sepasang anak adam yang baru menemukan cinta dalam hati mereka, sungguh begitu indah momen itu. Aku tak bisa menerobos masuk kerelung hati mereka. Karna aku buta akan definisi cinta yang sesungguhnya.
Di sebuah kafe, yang diatasnya terbingkai lampion-lampion berwarna warni menghias ruangan berdinding hembusan angin dari alam. Beratapkan daun rumbia kecokalat-coklatan menambah semaraknya ruangan itu.Mata heri tertunduk setelah melafazkan titisan jiwa yang selama ini ia pendam kepada seorang gadis berjilbab yang begitu anggun pesonanya, senyum manis slalu terlihat dari wajah lembutnya. Saat itu nida ikut terdiam mendengarkan untaian kata-kata dari lisan heri, slama ini tak pernah ia duga bahwa heri menyimpan rasa yang begitu mendalam kepadanya. Selama ini nida merasa bahwa heri adalah sahabat yang begitu dekat dengannya, semua keluh kesah yang ada dalam hati nida slalu di limpahkan kepada heri.
“Nida, raga ini tak sanggup lagi memendam perasaan yang bergumpal-gumpal dalam hati ku. nida, jujur heri suka ama nida, mungkin slama ini kita hanya berteman. Namun pertama kali aku melihat nida di kelas p1/3 waktu kita baru masuk kuliah, aku sudah ada rasa dengan nida”. Kata-kata itu terhenti dari lisan yang tak bertulang, beku tak tau ingin mengucapkan apa.
Wajah heri sembab, matanya menatap nida dengan lembut, penuh harap. Nida pun ikut terdiam, beberapa menit suasana tegang karana tidak ada yang mau melafazkan kata-kata terlebih dahulu, kadang mata mereka saling bertatapan dan langsung menunduk malu.hehehehe
“Nida, aku butuh jawaban dari mu. Maafin aku” heri memberanikah diri untuk berbicara, walaupun kekakuan lisannya sangat terlihat, sedikit terbata-bata. Terdengar lirih oleh nida. Nida tersenyum melihat tingkah heri, senyumnya membuat heri semakin kaku. Tertunduk dan kadang berusaha untuk santai membalas senyum nida.
“Hmmmmmmmm, gimana ya her, aku bingung tadi kamu ngomong apa ya ?” senyum manis itu kembali terlihat dari pesona gadis asli perbatasan antara indonesia dengan singapura (batam). Heri pun menjadi bingung dengan tingkah nida, keserbasalahan menyelimuti hati heri.
Heri diam, tak menjawab pertanyaan nida. Heri merasa di tes oleh nida. Karena nida tahu bahwa heri baru pertama kalinya mengungkapkan kata-kata itu kepada gadis yang ia sukai. Semetara nida sangat mengerti dengan keadaan heri yang slalu riang saat berada disamping nida dan teman-temannya. Namun saat ini heri sangat terlihat kekakuannya dan berubah menjadi lelaki yang puitis bagaikan penyair yang salah naik pentas. Hehehe
Heri kembali menuturkan kata-kata yang telah ia ucapkan tadi, namun dengan kata yang singkat dan cepat sambil mengaruk-garuk kepalanya, Menjadi salah tingkah. Sementara nida hanya membalasnya dengan santai “yang bener lah bilangnya, kalau gak tau tanya ma abang yang dah pengalaman aja” . hehehe, santai tapi menusuk dan menantang kapasitas heri sebagai lelaki. Tidak tahu kenapa heri tetap mempelajari filsafat bingung yang telah lama bersemayan dalam dirinya. Bingung dan bingung.
Malam semakin larut, jam tangan nida pemberian ibunya telah menunjukkan pukul 22.30 wib. Dengan keberaniannya, heri kembali bertanya dengan tegas. Rona wajahnya berubah menjadi lelaki yang penuh wibawa, sambil menarik nafas berusaha menenangkan diri. “gimana ni nida, aku butuh jawabannya. Aku ingin tahu malam ini juga”. Rona wajahnya membuat nida tak berdaya untuk mengelontarkan senyum, karena ia tahu bahwa heri benar-benar serius dengan perasaannya. Dengan mengucap basmallah nida menjawab “ ia aku mau “ seketika itu suasana berubah seratus derajat selsius. Dari dada heri bagian kiri terlihat bentuk hampir bulat dengan lancip sedikit menggelembung disamping kiri dan kanan berwarna ping agak pekat. Love
Begitu juga nida, bentuk itu keluar menyelubungi raga mereka berdua. Sungguh tak terbayangkan oleh ku. Mereka berdua bergegas pulang, karena telah larut malam. Sementara aku hanya bisa merasakan kegembiraan dari senyum yang terpancar dari garis wajah mereka. “terima kasih bang” kata-kata itu terlantun dari lisan mereka. Aku tak tahu harus menjawab apa, karena tanpa aku mereka pasti akan lebih mengerti arti cinta sebenarnya.
“jagalah hubungan kalian berdua dengan kegiatan yang bermanfaat. Jangan pernah kecewakan orang tua kalian, isak tangis mereka adalah berlian yang takkan bisa engkau balas”
Kawan, itulah cerita mereka malam ini. Sesosok heri adalah lelaki yang yakin dengan kata hatinya. Berani serta bartanggung jawab dengan anugrah yang telah diberikan kepadanya. Sementara nida adalah sesosok wanita yang sangat menjaga auranya dihadapan siapa saja. Ia Tidak pernah pilih kasih dalam melontarkan senyum kepada orang yang ia kenal. “senyum adalah ibadah” itulah motto hidupnya dalam kehidupan sehari-hari. Sekian ceritaku malam ini, aku sebagai abang slalu mendoakan jalinan yang telah terjalin malam ini, semoga kekal sampai akhir khayat. Amien.


m. irfan rosyadi
“Gudang ungkapan kegundahan ku 
18 oktober 2011 pukul 18.27 wib”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar